Ibu, pernahkah diri kita merasa jauh
dengan anak? walaupun setiap hari bertemu? Saya pernah...
Sudah ga bisa dikatakan lagi
gimana rasanya ketika saat-saat itu terjadi. Saat kita terlalu sibuk bekerja di
luar, berangkat pagi, pulang malam dan tahu-tahu anak sudah pulas dengan
tidurnya, atau mungkin dia masih terjaga namun anak ga peduli kita sudah datang.
Ketika anak tersenyum karena kedatangan kita, berlari dan memeluk kita sudah
menjadi pemandangan langka di rumah, padahal kejadian tersebut dapat me-recharge energi kita untuk kembali
manjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga ketika kembali ke rumah usai pulang
bekerja. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan perasaan seorang ibu ketika
kondisi tersebut terjadi yaitu sedih. Sebagian besar hal tersebut dialami oleh
ibu yang memustuskan untuk bekerja. Deadline
pekerjaan yang menggila di kantor dapat memicu terjadinya kelelahan saat kita
sudah kembali ke rumah, akibatnya kita mengabaikan anak kita karena tubuh kita
sudah lelah, ditambah lagi bila anak rewel maka emosi kita kadang ikut
terpancing dan mengakibatkan lama kelamaan anak menjauh dari kita. Namun itu
sudah risiko seorang ibu yang meutuskan untuk bekerja bukan? Kalo memang bekerja menjadikan kita sebagai
ibu jauh dari anak ya seyogyanya kita tinggalkan pekerjaan itu, toh tanggung
jawab utama kita adalah mendidik dan membesarkan anak dengan baik. Kalau sampai
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di lain waktu pada anak kita akibat dari
kurang optimalnya kita dalam membesarkan mereka tentunya kita tidak bisa
memaafkan diri kita sendiri. Naudzubillah...... Namun meninggalkan pekerjaan
tanpa pertimbangan yang cukup juga bukan merupakan solusi yang tepat.
Anak adalah anugerah dari Alloh
SWT yang harus kita jaga sebaik-sebaiknya, apa jadinya jika kita menyia-nyiakan
anugerah yang telah diberikan Alloh SWT pada kita? Tentunya Alloh akan marah.
Sebenarnya kalau ditanyakan kepada semua ibu yang ada di dunia ini tidak ada
satupun ibu yang benar-benar berniat untuk menyia-nyiakan anaknya, namun karena kondisi tertentu yang harus
menuntut seorang ibu untuk memutuskan dia bekerja, akibatnya dia tidak dapat merawat
dan menemani anaknya 24 jam penuh dan harus menjadi korban dari kondisi orang
tuanya yang sama-sama bekerja yaitu dititipkan kepada neneknya bahkan mungkin
tetanggnya, atau menyewa seorang ART dan baby
sitter yang kita belum tahu latar belakangnya seperti apa tapi kita begitu
saja percaya untuk menitipkan anak kita.
Kita boleh saja menitipkan anak
kita kepada siapapun orang yang terpercaya, asal jangan sampai keenakan dalam
artian kita tidak mau direpotkan anak, misalnya kalo anak rewel pengasuhnya
yang menghadapinya, atau mungkin ketika anak pub pengasuhnya yang
membersihkannya. Akibatnya anak lebih membutuhkan mereka yang mengasuh setiap
harinya dari pada kita ibunya sendiri. Walaupun menurut artikel yang pernah
saya baca disini
kecenderungan anak untuk selalu mencari atau dekat dengan pengasuhnya adalah
bukan dilatarbelakangi hubungan ikatan batin melainkan hanya karena
ketergantungan, tetap saja hal tersebut dapat menggerus ikatan batin dengan
anak yang sudah kita bangun ketika hamil dan menyusui. Ketergantungan itu
berupa perasaan nyaman yang diciptakan oleh pengasuh yang mungkin tidak
diperoleh ketika bersama dengan ibunya, sehingga dia lebih memilih pengasuhnya
daripada ibunya sendiri. Kalau sudah seperti itu kita pasti cemburu bukan? Dari
sinilah seorang ibu harus instropeksi, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Bisa
saja karena kita tidak bisa memanfaatkan waktu yang tersisa selama kita berada
di rumah. Kita harus bisa mencari cara bagaimana agar kenyamanan itu bisa
tercipta pada diri anak ketika bersama ibunya. Sekedar melakukan rutinintas
bersama kita seperti jalan-jalan pagi atau sore di sekitar kompleks rumah, memandikan
anak, atau menyuapinya membuat anak menyadari bahwa ada yang menyayanginya
selain pengasuhnya, ya tentu saja kita ibunya. Sekedar meluangkan waktu sehari
dalam seminggu yang diisi dengan aktifitas memasak makanan favoritnya akan
membuat anak merasa diperhatikan dan disayangi. Yang terpenting dari itu semua
adalah bagaimana membuat anak kita merasa aman dan nyaman ketika bersama dengan
kita.
Kita menyadari bahwa sebagai ibu
bekerja kita tidak bisa menemani anak selama 24 jam penuh, untuk itu marilah
kita manfaatkan waktu di rumah sebaik-baiknya. Walaupun hanya beberapa jam
sehari namun bila dilakukan semuanya dengan penuh cinta maka bisa membuat anak
menyadari bahwa ibunya menyanginya, dan suatu saat jika dia besar nanti anak
kita tidak merasa menjadi anak yang terabaikan oleh orag tuanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar