Rabu, 20 Agustus 2014

Saat Anak Tak Lagi Gemar Memanggil Kita






Ibu, pernahkah diri kita merasa jauh dengan anak? walaupun setiap hari bertemu? Saya pernah...
Sudah ga bisa dikatakan lagi gimana rasanya ketika saat-saat itu terjadi. Saat kita terlalu sibuk bekerja di luar, berangkat pagi, pulang malam dan tahu-tahu anak sudah pulas dengan tidurnya, atau mungkin dia masih terjaga namun anak ga peduli kita sudah datang. Ketika anak tersenyum karena kedatangan kita, berlari dan memeluk kita sudah menjadi pemandangan langka di rumah, padahal kejadian tersebut dapat me-recharge energi kita untuk kembali manjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga ketika kembali ke rumah usai pulang bekerja. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan perasaan seorang ibu ketika kondisi tersebut terjadi yaitu sedih. Sebagian besar hal tersebut dialami oleh ibu yang memustuskan untuk bekerja. Deadline pekerjaan yang menggila di kantor dapat memicu terjadinya kelelahan saat kita sudah kembali ke rumah, akibatnya kita mengabaikan anak kita karena tubuh kita sudah lelah, ditambah lagi bila anak rewel maka emosi kita kadang ikut terpancing dan mengakibatkan lama kelamaan anak menjauh dari kita. Namun itu sudah risiko seorang ibu yang meutuskan untuk bekerja bukan?  Kalo memang bekerja menjadikan kita sebagai ibu jauh dari anak ya seyogyanya kita tinggalkan pekerjaan itu, toh tanggung jawab utama kita adalah mendidik dan membesarkan anak dengan baik. Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di lain waktu pada anak kita akibat dari kurang optimalnya kita dalam membesarkan mereka tentunya kita tidak bisa memaafkan diri kita sendiri. Naudzubillah...... Namun meninggalkan pekerjaan tanpa pertimbangan yang cukup juga bukan merupakan solusi yang tepat.


Anak adalah anugerah dari Alloh SWT yang harus kita jaga sebaik-sebaiknya, apa jadinya jika kita menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan Alloh SWT pada kita? Tentunya Alloh akan marah. Sebenarnya kalau ditanyakan kepada semua ibu yang ada di dunia ini tidak ada satupun ibu yang benar-benar berniat untuk menyia-nyiakan anaknya,  namun karena kondisi tertentu yang harus menuntut seorang ibu untuk memutuskan dia bekerja, akibatnya dia tidak dapat merawat dan menemani anaknya 24 jam penuh dan harus menjadi korban dari kondisi orang tuanya yang sama-sama bekerja yaitu dititipkan kepada neneknya bahkan mungkin tetanggnya, atau menyewa seorang ART dan baby sitter yang kita belum tahu latar belakangnya seperti apa tapi kita begitu saja percaya untuk menitipkan anak kita.

Kita boleh saja menitipkan anak kita kepada siapapun orang yang terpercaya, asal jangan sampai keenakan dalam artian kita tidak mau direpotkan anak, misalnya kalo anak rewel pengasuhnya yang menghadapinya, atau mungkin ketika anak pub pengasuhnya yang membersihkannya. Akibatnya anak lebih membutuhkan mereka yang mengasuh setiap harinya dari pada kita ibunya sendiri. Walaupun menurut artikel yang pernah saya baca disini kecenderungan anak untuk selalu mencari atau dekat dengan pengasuhnya adalah bukan dilatarbelakangi hubungan ikatan batin melainkan hanya karena ketergantungan, tetap saja hal tersebut dapat menggerus ikatan batin dengan anak yang sudah kita bangun ketika hamil dan menyusui. Ketergantungan itu berupa perasaan nyaman yang diciptakan oleh pengasuh yang mungkin tidak diperoleh ketika bersama dengan ibunya, sehingga dia lebih memilih pengasuhnya daripada ibunya sendiri. Kalau sudah seperti itu kita pasti cemburu bukan? Dari sinilah seorang ibu harus instropeksi, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Bisa saja karena kita tidak bisa memanfaatkan waktu yang tersisa selama kita berada di rumah. Kita harus bisa mencari cara bagaimana agar kenyamanan itu bisa tercipta pada diri anak ketika bersama ibunya. Sekedar melakukan rutinintas bersama kita seperti jalan-jalan pagi atau sore di sekitar kompleks rumah, memandikan anak, atau menyuapinya membuat anak menyadari bahwa ada yang menyayanginya selain pengasuhnya, ya tentu saja kita ibunya. Sekedar meluangkan waktu sehari dalam seminggu yang diisi dengan aktifitas memasak makanan favoritnya akan membuat anak merasa diperhatikan dan disayangi. Yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana membuat anak kita merasa aman dan nyaman ketika bersama dengan kita.



Kita menyadari bahwa sebagai ibu bekerja kita tidak bisa menemani anak selama 24 jam penuh, untuk itu marilah kita manfaatkan waktu di rumah sebaik-baiknya. Walaupun hanya beberapa jam sehari namun bila dilakukan semuanya dengan penuh cinta maka bisa membuat anak menyadari bahwa ibunya menyanginya, dan suatu saat jika dia besar nanti anak kita tidak merasa menjadi anak yang terabaikan oleh orag tuanya.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar